Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Contoh Naskah Drama Rapunzel - Komedi


drama-rapunzel

Disuatu negeri hiduplah seorang gadis cantik jelita yang bernama Rapunzel. Ia tinggal bersama seorang nenek sihir di sebuah menara paling tinggi dinegeri itu. - Contoh naskah komedi

Letaknya yang terpencil ditengah hutan, membuat tidak ada seorang pun yang pernah datang ke menara itu. Bahkan penulis pun tidak tau letaknya dimana. Kemungkinan di google maps pun tersembunyi.
  contoh naskah komedi

Suatu sore, seorang Pangeran bernama William dari negeri Ulala sedang berburu pacet di hutan dekat menara itu. Ia pun begitu terkejut melihat ada menara setinggi itu di tengah hutan belantara tempatnya berburu. - Contoh naskah komedi

Ingin rasanya ia mengetahui penghuni menara itu, maka ia memutuskan masuk kedalam menara itu seorang diri.

William : “Kira-kira siapa ya yang tinggal di menara itu.” (berbicara dalam hati)

Ketika sampai di bawah menara, ia bingung.

William : “Gimana cara aku naik ? Tangganya aja nggak ada, pintunya juga nggak ada.” (wajah murung)

Kemudian dari arah belakang muncullah seorang wanita muda, ialah nenek sihir.

William : “Waduh, ada orang, harus berkamuflase nih!” (memperagakan menjadi kupu-kupu dan mengepakkan kedua tangan layaknya sayap)

Wanita itu datang membawa tas berisi makanan. Ia terkejut melihat William. Ia mendekati tubuh William.

Ibu       : “Ini apa ya ?” (melihat pada wajah William)

William : “Aku kupu-kupu.”

Ibu       : “Ooh kupu-kupu. Lumayan mirip sih."

 Nenek sihirpun berdiri dibawah menara sambil memanggil nama “Rapunzel”.

Ibu : “Rapunzel ! Rapunzel ! Ulurkan rambutmu, ibu datang Nak !” (berteriak)

Dari arah jendela menara itu, muncullah Rapunzel. Dengan wajah tersenyum melihat ibunya pulang, iapun segera menjulurkan rambutnya yang panjang dan berwarna keemasan.

Rapunzel : “Iya Bu, tunggulah sebentar Bu.” (menurunkan rambut)

Ibu : “Nah, gitu dong, anak pinter.” (mulai memanjat rambut Rapunzel)

Setelah sampai di atas menara…

Rapunzel : “Ibu bawa apa aja ?” (mengambil dan membuka tas ibunya)

Ibu : “Biasa, cuman sayuran dan buah-buahan.” (sambil duduk di kursi)

Rapunzel : “Yah, ibu…” (merengut)

Ibu : “Kenapa toh ?”

Rapunzel : “Tadi kan Rapunzel titip cilok rasa bbq dijual terpisah."

Ibu : “Ya ampun, kamu ini aneh ya, di hutan mana ada jual begituan ... lagipula, ibu lupa beli!”

Rapunzel : “...” (sedih)

Ibu : “Besok saja ya,”

Rapunzel : “Ya udah deh.”

Diluar menara William keluar dari tempat kamuflasenya. Ia sudah mengetahui cara ia masuk ke dalam menara, dan ia akan melakukannya di keesokan

#Play : Kukuruyuuukkk

Pagi harinya, William datang lagi, ia tahu bahwa ibu Rapunzel sudah pergi mencari makanan.

William : “Rapunzel ! Rapunzel ! Ulurkan rambutmu !” (berteriak)

Rapunzel pun mengulurkan rambutnya, dan William pun memanjat menara lewat rambut itu.

William : “Makasih ya,” (senyum)

#Play :Andra N The Backbone “Sempurna”

William menatap Rapunzel begitu lama… Tentu saja Rapunzel gugup. Wajahnya memerah. Hidungnya kembang kempis.

  Rapunzel : “Loh, kamu siapa ?” (kaget)

  William : “Hah ? Icha ?” (memegang pipi)

  Rapunzel : “Mimi peri ?” (memegang pipi)

William : “Hehehe, kenalin nama aku William dari negeri yang sangat jauh.” (mengulurkan tangan)

Rapunzel : “Kalo dari negeri yang deket ?”

William : “Willy Nikita.” (senyum mengedipkan mata)

Rapunzel : “Nikita Willy, keleus !”

William : “Udahlah, kembali ke permasalahan aja, ribet kalo nanya gini.”

Rapunzel : “Ya udah, kok kamu bisa nyampe ke sini ?”

William : “Naik rambut kamu,”

Rapunzel : “Kamu pikir rambut aku tangga apa ?”

William : “Hehehe, jangan marah dong, entar cantiknya ilang.”

Rapunzel : “Iya deh, kenalin kayaknya nama aku Rapunzel.” (mengulurkan tangan)

William : “Kok kayaknya ?” (bingung)

Rapunzel : “Nama-nama gua, masalah buat lo ?”

William : “Udah lama ya, kamu tinggal di sini ?” (mengambil kursi dan duduk)

Rapunzel : “Ya begitulah, udah hampir 17 tahun.”

William : “Yang tadi itu ibu kamu ?”

Rapunzel : “Ya begitulah..”

William : “Kok nggak mirip ya,”

Rapunzel : “Ya begitulah..”

William : “Kamu nggak punya kosa kata lain ya, beli kamus aja sana.”

Rapunzel : “Dulu sih aku udah punya, tetapi buat ganjel lemari. Abisnya lemari aku goyang.”

William : “Apes amat ? Pantes kamu jadi oon.”

Rapunzel : “Lebih baik kamu pulang, ibu aku bentar lagi pulang..”

Tiba-tiba dari arah luar menara …

Ibu : “Rapunzel.. ulurkan rambutmu..”

William : “Waduh, ibu kamu udah pulang.”

Rapunzel : “Kan aku udah bilang. Sembunyi deh, sembunyi.” (panik)

William : “Ah kamu, takut ya sinar kegantengan aku ketahuan ibu kamu ?”

Rapunzel : “Iyuh, geli ngetz. Sembunyi, cepetan !”

Ibu : “Rapunzel, kamu nggak denger ya ?”

Rapunzel : “Iya, bentar Bu..” (mengulurkan rambut)

Setelah rambut Rapunzel turun, maka ibunya menaiki rambutnya.

Ibu : “Enggak biasanya kamu kayak begini, pasti ada syahrini nih..” (curiga)

Rapunzel : “Sesuatu Bu, bukan Syahrini.”

Ibu : “Ada orang dateng kemari ya,”

Rapunzel : “Iya ada Bu, eh, eh, keceplosan.” (menutup mulut)

Ibu : “Siapa ? Cepet kasih tau Ibu.”

Rapunzel : “Kasih tau nggak ya ?”

Ibu : “Tuh kan, kamu kambuh lagi.”

Rapunzel : “Ya Ibu lah yang dateng, siapa lagi coba ?”

Ibu : “Itu apa ?” (melihat tirai menara yang bergoyang-goyang)

Rapunzel : “Nggak tau Bu, mungkin gajah, coba diliat aja Bu.”

Ibu : “Nyesel Ibu ngambil kamu dari panti jompo dulu, bego nya nggak ketulungan.”

Rapunzel : “Waduh, masa’ dari panti jompo Bu ?”

Ibu : “Ibu akan cek siapa di balik tirai itu,” (mendekati tirai)

Rapunzel : “Ayo, Ibu cemungud, di balik tirai itu mungkin ada tiket umroh.”

Ibu : “Kamu pikir ini acara di AMTV itu  ya ?”

Rapunzel : “Ibu, jangan di buka,ibu harus yakin, nanti ZONK !”

Ibu : “Ya Tuhan, waraskanlah anakku.”

Ibu itu kemudian membuka tirai dan ia menemui seorang pemuda, dan ia adalah William.

Ibu : “Hah, kamu siapa ? Beraninya masuk ke menara ini ?”

William : “William, saya adalah Pangeran dari negeri Ulala.”

Ibu : “Ngapain kemari ?”

William : “Yah, cuman pengen ketemu sama calon istri.” (melirik Rapunzel)

Rapunzel : “Maaf, lo gue end.” (berbisik dengan raut mengejek)

Ibu : “Pergi kamu dari sini, nggak penting banget kamu ada di sini.”

William : “Sabar Bu,”

Ibu : “Sabar, sabar, nggak bisa, cepet kamu pergi.”

William : “Oke, saya akan pergi, tapi saya ingin minta satu hal.”

Ibu : “Apa lagi ?”

William : “Saya minta sedikit saja minta rambut Rapunzel yang keren itu, buat kenang-kenangan.”

Ibu : “Apa ? Enak aja, nggak boleh !”

William : “Kenapa nggak boleh ?”

Ibu : “Ya nggak apa-apa.” (mulai panik)

Ibu : “Waduh gawat nih, kalo rambut Rapunzel di potong, aku jadi tua lagi. Sihir aku hilang dan Rapunzel bisa-bisa balik lagi ke istana Raju.” (wajah jahat)

William : "Ibu, mmm maaf sebelumnya, itu yang ibu omongin kedengeran bu sama saya. Hehe, punten ya."

Ibu : “Kok kamu nguping ?” (setengah berbisik dengan wajah panik)

Rapunzel : “Kenapa Bu ?”

William : “Kayaknya ada yang di sembunyiin sama Ibu kamu Rapunzel, lihat tatapan matanya, sangat mencurigakan.”

Ibu : “Muka lu yang mencurigakan, main masuk rumah orang aje."

William : “Terus kenapa panik gitu ?”

Rapunzel : “Will, kayaknya kata-kata kamu bener deh, kok muka Ibu jadi kelihatan lebih tua gitu ?”

William : “Iya, kok keriput ya ?”

Ibu : “Apa maksud kalian ? Saya kan memang udah tua. Wajar dong keriput.”

Rapunzel : “Tapi bukannya Ibu make produk dari lemak kucing itu ?”

Ibu : "Asdfghjjkl. Tuhan, cabut nyawa anak saya aja duluan. Ngeselin, sumpah."

William : “Rapunzel, coba kamu ambil gunting deh,”

Rapunzel pun pergi mengambil gunting.

Ibu : “Rapunzel, jangan !!!” (bunyi petir)

William : “Tuh kan, Ibu kamu takut.”

Ibu : “Kamu jangan meracuni otak anak saya ya,”

Rapunzel : “Aku curiga sama Ibu deh, kok Ibu jadi sensitif gini sih ?”

William : “Lagi PMS ya Bu ?”

Ibu : "Eh elu laki, terserah nama lu siapa, elu jangan ngeracunin pikiran anak gue. Anak gue udah bego. Jangan elu tambahin lagi. Sengsara hidup gue."

William : "Aku ? Jadi duta sampo lain ?  Hahaha."

Ibu : “Rapunzel, turuti kata-kata Ibu Nak.”

William : “Ayo, mana guntingnya, aku cuman mau motong rambut kamu seujung kuku aja kok.”

Ibu : “Rapunzel ku, jangan,,aahhh tidaakkkk,, jangaaaaaannn..” (panik)

Rapunzel dan William : "Belum ... -_- " (wajah datar)

Ibu : "Oh iya maap, silahkan lanjutin dulu."

William : “Ayolah Rapunzel, kita buka teka-teki ini.”

Rapunzel : “Ibu nggak biasanya melarang aku, pasti ada sesuatu.”

Ibu : “Itu bahaya Rapunzel, sini berikan guntingnya pada Ibu.”

Rapunzel : “Maaf Will, aku lebih percaya Ibuku.”(menyerahkan gunting pada ibunya)

Ibu : “Nah, begitu dong, good boy.” (mengambil gunting)

Tiba-tiba, gunting pemberian Rapunzel dilemparkan kearah William, dan tepat mengenai perutnya.

Rapunzel : “Ibu, apa yang Ibu lakukan ?”

Ibu : “Nyuci piring! Ya lempar gunting lah. Make nanya lagi. Gue kepret juga lu lama-lama."

William : “Rapunzel…” (suara pelan)

Rapunzel : “Iya Will..” (mendekati William)

Tanpa sepengetahuan Rapunzel, William mencabut gunting itu dan memotong rambut Rapunzel. 

Maka terjadilah sebuah keajaiban. Ibu Rapunzel tiba-tiba berubah menjadi nenek sihir yang sudah tua dan berwajah keriput.

Rapunzel : “Kok Ibu berubah jadi tua ? Will, aku curiga..”

William : “Curiga kenapa ?”

Rapunzel : “Aku curiga, produk yang Ibu beli kayaknya palsu.”

William : "Bodo amat, mending gue mati."

Ibu : “Rapunzel, kamu anak durhakaaaaa.” (terbatuk-batuk)

Rapunzel : “Oh Ibu, kutuk dia saja. Jangan aku. Aku masih ingin pergi ke dunia lain.” (menunjuk William)

William : “Eh, enak aja. Yang anaknya kan kamu, kenapa aku yang di kutuk ?”

Rapunzel : “Kamu yang menggoda aku. Iya kamu. Udah cukup. Udaahhh gausah ada penjelasan lagi."

William : "Krik krik krik."

Ibu : “Rapunzel, Ibu ingin bilang, kalau….”

Rapunzel : “Kalau apa Bu ?”

Ibu : “Kalau…”

Rapunzel : “Kalau apa Bu ? Ibu jangan membuat Rapunzel gusar.”

Ibu : “Kalau…”

Rapunzel : “Ibu, jangan setengah-setengah,ayo jujur.”

Ibu : “Ka…”

Rapunzel : “Apa Bu ? Kalau apa ?"

Ibu : “Heh, coba kamu diem dulu. Kalo kamu nyerocos terus kapan Ibu ngomongnya? Terus kapan Ibu matinya. Gak selesai-selesai nih.”

Rapunzel : “Ii..iiyaa, maaf Bu.”

William : “Ibu sama anak sama gilanya.” (bergumam)

Ibu dan Rapunzel : “Apa kamu bilang ?”

William : “Oh, enggak. Lanjutin aja dramanya.” (tersenyum)

Ibu : “Nah, Rapunzel. (terbatuk) Ibu mau bilang, kalo sebenarnya kamu bukan anak Ibu.”
 
William : "Tuh kan bener, pasti Rapunzel putri dari seorang raja."

Ibu dan Rapunzel : " Bacot lu. Spoiler mulu."

Rapunzel : “Apa ? Oh tidak ! Jangan Ibu katakan kalau aku ini anak yang tertukar.”

Ibu       : “Apa sih. Ya gak mungkinlah.”

William : “Semoga Rapunzel bukan anak kucing.”

Ibu       : “Kamu anak yang Ibu temuin di timun besar.”

Rapunzel : “Ibu, please deh. Itu beda cerita, itu cerita timun emas.”

Ibu       : “Maaf. Maksud Ibu kamu adalah anak raja…” (mati)

Rapunzel : “Ibu, bangun. Ibu belum bilang Rapunzel anak siapa ?”

Ibu       : (terbangun lagi) Lupa, kirain tadi udah bilang. Kamu ini anak raja dari kerajaan Raju. Udah dulu ya, Ibu mau OTW ke surga,” (mati lagi)

Rapunzel : “Ibu, huhuhu (menangis)

William : “Yang sabar, pasti Ibu kamu nikah lagi disana.”

Di akhir kisah, datanglah rombongan kerajaan Ulala.

Rapunzel : “Will, kamu baik-baik aja kan ?” (memapah William)

William : “Nggak apa-apa, ini cuma kena sedikit aja kok.”

Rapunzel : “Itu keluarga kamu ya, Will ?”

William : “Iya,”

Raja : “Inikah yang bernama Rapunzel ?” (sambil tersenyum)

Rapunzel : “Iya, saya Rapunzel.”

William : “Cantik ya.”

Raja : “Kamu sangat cantik, persis dengan yang diceritakan oleh William.”

Kirana : “Wah, kakak hebat, calon istrinya cantik banget.”

Rapunzel : “Will.. ?” (menatap William)

William : “Ini ayah aku, ibu dan adik aku, aku udah ceritain semua tentang kamu sama mereka semua, aku mau kamu menikah dengan aku.”

Ratu : “Iya, Will sudah menceritakan kamu sejak kemarin, kami menyetujuinya.”

Raja : “Kalian serasi.”

Kirana : “Sangat cocok.”

Ratu : “Dan bagaimana denganmu Rapunzel, bersediakah kamu menikah dengan anak kami ?”

Rapunzel : “Gimana ya,,” (tersipu malu)

Kirana : “Terima dong kak Rapunzel..”

Prajurit : “Terima ! Terima ! Terima !” (bertepuk tangan)

William : “Kalo kamu belum siap ya enggak apa-apa, Aku nikah sama Ibu kamu aja.”

Rapunzel : “Eh, kok gitu sih ? Kamu suka yang janda ya ?”

William : “Abisnya kamu sih.”

Raja : “Nak Rapunzel, kami tidak pernah memaksamu, Kalau memang Will tidak dapat menikahi dirimu. 

Maka ia akan kami nikahkan dengan salah satu prajurit kami.”

Prajurit : “Ampun, sudahi saja sinetron ini.”

Ratu : “Kalau Nak Rapunzel belum siap, ya tidak apa-apa, Will akan menunggu.”

Kirana : “Semoga setuju ya Bu,” (memeluk ibunya)

Rapunzel : “Ehm.. kasih tau gak yaa..”

William : “Kasih tau dong. Apa perlu aku beliin kamu Bebelac biar kamu bilang You are My Everything.”

Rapunzel : “Gak segitunya juga.”

William : “Ya jawab dong. Kalo enggak aku jadi duta sampo lain nih.”

Rapunzel : “OK. Saya bersedia…” (menunduk)

William : “Benarkah ?”

Rapunzel : “Iya…”

William : “Ciyus ?”

Rapunzel : “Enelan deh,” (tersenyum)

Kirana : “Horee..!!!” (tepuk tangan)

#Play :Sule “Sarangheyo”

Dengan berakhirnya kalimat dari Rapunzel, maka berakhir pulalah kisah Rapunzel. Ia pun menikah dan hidup bahagia selamanya dengan William di istana Ulala.

Tokoh dan Penokohan :
1.)    Rapunzel         : Baik hati, penurut, curigaan.
2.)    Nenek sihir      : Jahat, licik.
3.)    William            : Baik hati, tulus.
4.)    Raja                 : Baik hati.
5.)    Ratu                : Baik hati.
6.)    Kirana             : Ceria.

Latar\Setting :
1.)    Di menara
2.)    Di hutan
3.)    Pagi hari

Nama Kelompok :
1)      Melisa Anggraini         : Narator
2)      Nira Kristiani              : Rapunzel
3)      Suyitno                        : William
4)      Jumiati                         : Ratu
5)      Hary Tantio                 : Raja
6)      Titis Wijayanti : Nenek sihir
7)      Fitriani                         : Kirana

Demikianlah artikel mengenai Contoh Drama Rapunzel, tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahan karena terbatasnya pengetahuan, referensi dan rujukan yang kami peroleh. Kami berharap agar pembaca sekalian memberikan kritik dan masukannya di kolom komentar untuk membangun kami kedepannya menjadi yang lebih baik lagi. Semoga artikel ini bermanfaat, wassalamualaykum warahmatullahi wabarakatu.
 
Sandiok
Sandiok QHSE Officer PT. Nindya Karya | D3 Fire and Safety of Balongan Oil and Gas Academy

Posting Komentar untuk "Contoh Naskah Drama Rapunzel - Komedi"