IBX5B54BCC389CD2 Cerita Rakyat - Putri Malu - Lulusandiploma.com

Cerita Rakyat - Putri Malu




CERITA RAKYAT – PUTRI MALU

Pada zaman dahulu kala, tinggallah sebuah keluarga kecil di pinggir desa. Desa itu bernama Desa Kenari. Keluarga itu terdiri dari seorang ayah, ibu dan kedua anak perempuannya. Kedua kakak beradik ini memiliki sifat yang saling bertolak belakang. Sang kakak adalah seorang yang periang dan pemberani, sedangkan sang adik adalah seorang yang pemalu dan pendiam.
Suatu hari, sang kakak akan ikut pergi berbelanja ke pasar bersama ibunya. Sang kakak sangat gemar berjalan – jalan menikmati ramai riuhnya suasana pasar. Karena sang adik pemalu, maka ia hanya tinggal di dalam rumah saja. Saat itu, ayah mereka sedang bekerja di sawah bersama dengan petani – petani lainnya.
“Adikku, kakak akan ikut ibu berbelanja kebutuhan dapur. Apakah adik mau ikut bersama kami ?” tanya sang kakak dengan nada lembut. Sang adik hanya menggelengkan kepalanya tanda tak mau.
“Ya sudah kalau begitu, baik – baik saja di rumah ya, Nak.”kata ibunya sambil mengelus kepala anaknya dengan perlahan.
Sang adik hanya memandangi punggung kakak dan ibunya. Ia memang tidak menyukai keramaian. Suara bising akan membuatnya merasa pusing dan tidak nyaman. Kini, ia hanya duduk – duduk saja di teras rumah. Ia duduk sambil memandangi keadaan sekitar rumahnya yang rimbun tertutupi pohon pisang dan beberapa bunga yang di tanam oleh kakaknya.
Tidak lama, terdengar suara ranting pohon kering yang seperti terinjak oleh sesuatu. Krakk ! Sang adik menoleh kesana kemari mencari sumber suara. Akan tetapi ia tidak beranjak dari tempat duduknya. Krakk ! Ranting patah terdengar kembali. Kali ini, sang adik mencoba berjalan perlahan menuju sumber suara. Suara itu berasal dari arah belakang rumahnya. Ia berjalan mendekati sumber suara itu dengan perlahan.
Tampak olehnya seekor binatang berkaki empat yang mirip dengan kucing, tetapi telinganya lebih mirip dengan kelinci. Binatang itu sedang meminum air di kendi di belakang rumah. Ia tampak terkesiap ketika melihat sang adik datang mendekat. Binatang itu segera berlari menuju semak – semak.
“Hei, jangan lari. Aku tidak akan menyakitimu.”kata sang adik dengan suara pelan. Hampir berbisik.
Tentu saja binatang itu tidak mendengarkan perkataan sang adik. Binatang itu kini sudah tidak tampak lagi di hadapan sang adik. Tepat saat itu juga, ayah pulang dari pekerjaannya di sawah.
“Nak, apa yang sedang kamu lakukan disitu ?”
“Tidak ada, Yah.”
“Tolong ambilkan Ayah air minum di dapur ya.”
Sang adik segera berjalan ke dapur dan mengambilkan air minum untuk ayahnya. Sang ayah meminum air tersebut dengan begitu cepatnya karena haus yang amat sangat.
“Tadi waktu di sawah, banyak penduduk desa yang mengeluh. Katanya air kendi di rumah mereka cepat sekali habisnya. Padahal kendi itu tidaklah bocor. Dan tidak pula di gunakan untuk mandi oleh orang lain. Hmm.. kasihan mereka, padahal mengambil air bersih di mata air cukup jauh dari rumah mereka. Semoga saja air kenci kita tidak cepat habis seperti mereka ya, Nak.”
Mendengar pernyataan ayahnya, sang adik tampak terkejut. Ia segera berlari lagi menuju belakang rumahnya, ia mendekati kendi yang tadi airnya di minum binatang aneh. Dan ternyata benar, seperti perkataan sang ayah, air kendi di dalamnya telah habis tak bersisa. Bahkan kendinya telah kering.
“Ayah, air kendi kita juga habis.”kata sang adik pada ayahnya setelah ia menemui ayahnya lagi di teras rumah.
“Apa ? Benarkah ?”sang Ayah segera berlari. Ia mendapati kendi besar berisi air untuk minum milik mereka telah kering. “Bagaimana bisa ?”
“Tadi aku melihat ada binatang aneh yang meminumnya.”
“Binatang aneh ?”
“Badannya mirip kucing, tetapi telinganya panjang seperti kelinci.”
“Mungkin binatang itu yang selama ini meresahkan warga desa. Kita harus segera melaporkannya ke kepala desa.”
Beberapa saat kemudian, sang ayah pergi menemui kepala desa untuk menceritakan apa yang di alami oleh anaknya. Namun, kepala desa justru mengganggap bahwa perkataan anaknya adalah kebohongan.
“Apa bapak yakin perkataan putri bapak bisa di percaya ?”
“Tentu saja. Putriku bukan termasuk yang suka berbohong.”
“Begini, bukannya saya tidak mempercayai apa yang tadi bapak sampaikan. Hanya saja, putri bapak itu sudah di kenal sebagai putri malu, yang selalu berdiam diri di dalam rumah tanpa berbaur dengan anak – anak lain di desa ini. Jadi, menurut saya kemungkinan putri bapak hanya mengada – ada saja. Bisa saja yang di lihatnya itu kelinci liar yang kebetulan lewat saja. Toh, putri bapak memang tidak pernah kemana – mana, jadi takutnya pengetahuannya sangat kurang.”
Sang ayah berdiam diri sebentar. Hening.
“Baiklah kalau memang pak kades tidak percaya. Saya pamit undur diri.”
Sesampainya di rumah, sang ayah segera menemui putrinya yang pemalu.
“Nak, apa kamu yakin binatang yang kamu lihat itu adalah binatang aneh ?”
Sang adik mengangguk.
“Mari kita tangkap binatang itu dan menunjukkannya pada kepala desa.”
Keesokan harinya, sang ayah dan kedua putrinya mengambil air di sungai dan memenuhi kendi air minum di belakang rumah. Setelah penuh, sang ayah memasang perangkap guna menangkap binatang aneh yang gemar menghabiskan air minum warga desa.
Setelah beberapa hari menunggu, akhirnya suatu sore binatang aneh itu muncul kembali di belakang rumah mereka. Binatang itu mengendap – endap dan segera mengendus keberadaan air. Binatang itu menemukan sebuah kendi air yang penuh. Ia segera memanjatnya dan meminumnya dengan sangat cepat. Setelah habis, ia hendak menuruni kendi itu dan segera berlari. Namun karena kurang cermat, kakinya sudah terkena perangkap yang di pasang oleh keluarga yang ia curi airnya. Tak lama kemudian, sang ayah dan kedua putrinya menangkap basah sang pencuri air minum selama ini.
“Jadi binatang ini yang suka menghabiskan air minum warga desa ?”
“Ayo kita serahkan ke kepala desa, Yah.”
Mereka bertiga segera berangkat menuju rumah kepala desa. Kepala desa sangat terkejut melihat binatang aneh itu di hadapannya.
“Loh, ini peliharaan saya. Bagaimana mungkin bapak bisa menemukannya ? Ia sudah lama kabur dari rumah kami.”
“Anak saya lah yang pertama kali menemukannya.”
“Putri malu ?”
Sang adik mengangguk pelan.
“Terima kasih ya. Berkat keberanianmu, peliharaanku bisa kembali. Dan mohon maaf jika binatang ini merepotkan kalian. Saya akan segera mengganti air yang di habiskan olehnya.”
“Mohon bertanya pak kades, binatang apakah itu ?”
“Oh ini. Ini sebenarnya di wariskan oleh kakek saya. Binatang ini sudah berumur puluhan tahun. Saya juga tidak tahu ini binatang apa. Tapi yang jelas, namanya Trima. Nama yang sudah di wariskan turun temurun.”
Semenjak itu, tidak ada keluhan lagi dari warga desa mengenai hilangnya air minum dari kendi – kendi mereka. Dan sang adik kini sudah mempunyai keberanian. Ia di kagumi oleh warga satu desa tersebut. Namun tetap saja ia di panggil Putri Malu.

0 Response to "Cerita Rakyat - Putri Malu"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Advertisement

Advertisement

Iklan Bawah Artikel