IBX5B54BCC389CD2 Cerita Rakyat - Buah dari Kesabaran - Lulusandiploma.com

Cerita Rakyat - Buah dari Kesabaran


Assalamu'alaykum...

Cerita rakyat, dongeng, fabel, merupakan cerita yang di sukai oleh anak - anak. Kebiasaan mendengarkan cerita sebelum tidur tentunya akan menjadi masa - masa yang di rindukan ketika ia dewasa nanti. Kali ini lulusandiploma akan memberikan sebuah cerita rakyat untuk teman - teman. Semoga akan ada hikmah yang di petik setelah membaca cerita rakyat yang satu ini ya. Simak di bawah ini :



Buah dari Kesabaran

Pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang nenek tua di pinggir pantai di pulau terpencil. Ia tinggal bersama dengan putri kecil tercintanya. Nenek tua itu bernama Nyai Tasim, dan putri kecilnya bernama Marini. Kini putri kecilnya berusia sebelas tahun.

Marini mengenyam pendidikan di sekolah dasar di dekat pasar yang letaknya agak jauh dari pantai. Nyai Tasim bersama putrinya hidup sangat miskin. Keseharian mereka hanya mencari siput dan hewan kecil di pinggir pantai. Suaminya telah lama wafat sejak Marini baru berumur 1 tahun karena kecelakaan saat bekerja di luar pulau tersebut. Meskipun mereka tinggal di pinggir pantai, akan tetapi Nyai Tasim tidak pernah melaut. Hidupnya yang miskin membuat dirinya dan anaknya tidak mampu membeli perahu kecil untuk mencari ikan di laut terdekat.

Walaupun tidak pernah melaut, Nyai Tasim dan anaknya tetap mengonsumsi ikan laut setiap harinya. Sebab ia sering menjala ikan di dekat pantai. Hasil tangkapannya memang hanya sedikit, hanya sekitar kurang dari lima ekor. Ikan hasil tangkapan mereka biasanya di jadikan ikan asin untuk lauk makan sehari - hari.

Setelah lima tahun berlalu, Marini tumbuh menjadi gadis muda yang cantik. Ia sadar bahwa cantik bukanlah segalanya, maka meskipun nilainya di sekolah termasuk standar, namun ia tetap rajin belajar. Suatu hari, Marini bertemu dengan saudagar kaya yang datang dari luar pulau. Sebenarnya ia memiliki cita - cita untuk melanjutkan pendidikan ke luar pulau. Akan tetapi ia menyadari bahwa ibunya tidak akan sanggup untuk membiayai dirinya. Bahkan untuk makan sehari - hari saja sudah susah.

Melihat tibanya kapal saudagar kaya berlabuh di pinggir pantai dekat rumahnya, Marini berlari mendekati kapal itu. Di lihatnya banyak orang berlarian menuju kapal itu. Mereka mengangkat barang - barang yang ada di dalam kapal itu dan di bawa ke dalam gerobak milik kepala desa. Marini ikut membantu pekerjaan tersebut. Perempuan yang ikut membantu bukan hanya dirinya, akan tetapi masih banyak yang lain yang seusianya ikut membantu mengangkat barang.

Karena wajah dan rupa yang cantik, saudagar itu memperhatikan Marini. Sepertinya Marini memang menarik perhatiannya untuk terus di amati.

"Siapa gadis muda itu, Pak Kepala Desa ?"tanyanya sambil menunjuk Marini.
"Oh, itu Marini. Ia masih dalam tahap pembelajaran di sekolah di dekat pasar."jawab Pak Kepala Desa.
"Dia cantik. Apakah di sekolahnya ia termasuk pintar ?"
"Ya, Marini adalah gadis tercantik di desa kami. Setahu saya, ia termasuk siswi yang rajin."
"Baiklah kalau begitu. Boleh saya minta panggilkan dia ? Saya ingin berbicara dengannya."
"Tentu saja boleh."

Pak Kepala Desa turun dari kapal menemui Marini.

"Marini."
"Iya, ada apa Pak Kepala desa ?"
"Kamu di panggil oleh saudagar itu. Ia ingin berbicara denganmu. Tunjukkan sopan santunmu ya, Nak."
"Baiklah, saya akan segera menemuinya, pak Kepala desa."

Dengan hati riang, Marini berjalan cepat menuju ke dek kapal. Ia segera menghadap saudagar kaya itu.

"Permisi, saya yang bernama Marini, pak."
"Ya, Marini. Perkenalkan saya Purnawan."
"Ada apa Tuan Purnawan memanggil saya kemari ? Apakah ada sesuatu yang penting mungkin ingin di sampaikan ke saya ?"
"Oh iya, ada."
"Apakah gerangan yang ingin Tuan sampaikan ke saya ?"
"Saya tertarik dengan paras dan sifatmu yang rajin. Saya ada maksud untuk membawamu ke luar pulau ini dan melanjutkan pendidikanmu di kota tempat keluarga saya tinggal. Kebetulan saya juga memiliki seorang anak yang usianya hampir sama dengan dirimu. Istri saya sudah tidak bisa mengandung lagi. Ia sangat menginginkan anak perempuan. Jadi, saya di beri amanah oleh istri untuk mencarikannya anak perempuan yang mau di jadikan anak angkat oleh kami."
"Benarkah semua yang Tuan sampaikan ?"
"Benar, Marini. Mari kita bisa bicarakan dengan orang tuamu untuk masalah perizinan. Tetapi, apakah Nak Marini mau menjadi anak angkat keluarga kami ?"
"Dengan senang hati, Tuan."
Marini mengajak saudagar kaya itu ke rumahnya yang berada tidak jauh dari kapal. Ibunya saat itu sedang membersihkan ikan hasil tangkapan pagi hari tadi.
"Ibu, ini Tuan Purnawan."
"Oh, saya Nyai Tasim, Tuan."

Setelah selesai berkenalan, Tuan Purnawan menyampaikan maksudnya untuk membawa putri Nyai Tasim ke luar pulau. Hatinya awalnya sangat bahagia karena putrinya dapat melanjutkan pendidikan yang bahkan memimpikannya pun ia tak sanggup. Namun hatinya menjadi sangat sedih karena akan berpisah dengan putri semata wayangnya.

Berbincang lama, akhirnya Nyai Tasim memberikan izin kepada Tuan Purnawan untuk membawa anaknya. Ia akan mempercayakan putrinya di bawa oleh saudagar kaya yang memang sudah terkenal sebelumnya sangat baik hati dan suka membantu penduduk pulau tersebut.

Malam itu juga, Marini berangkat bersama Tuan Purnawan menuju luar pulau. Ia memeluk dan mencium ibunya sebelum naik ke atas kapal. Mereka berpisah di iringi dengan isak tangis yang sangat menyayat hati. Nyai Tasim kembali ke rumahnya setelah melepas kepergian putrinya. Ia baru kembali ke rumahnya setelah kapal yang di tumpangi anaknya tak nampak lagi oleh mata rapuhnya. Dengan pilu, Nyai Tasim meratapi hidupnya yang kini sendiri di hari tuanya.

Delapan tahun berlalu. Nyai Tasim dengan hati rindu, selalu memandangi ke arah laut lepas. Setiap kapal yang berlabuh ke pulau itu, ia awasi orang yang keluar masuk kapal. Kalau - kalau ada putrinya yang pulang menjenguknya hari itu. Namun ternyata sampai hari ini juga, putrinya belum ada tanda - tanda kembali.

Nyai Tasim semakin hari semakin tua. Ia kini sakit - sakitan. Ia tak lagi mencari hewan kecil di pinggir pantai. Kini ia hanya mengandalkan ikan asin dengan nasi pemberian kepala desa. Ternyata Tuan Purnawan menitipkan uang untuk kebutuhan Nyai Tasim selama putrinya mengenyam pendidikan di luar pulau.

Suatu pagi yang cerah, sebuah kapal besar berlabuh di dekat rumah Nyai Tasim. Saat itu, Nyai Tasim masih berselimutkan kain sarungnya, ia mengedipkan matanya berulang kali. Tampak olehnya putrinya Marini berada di atas kapal. Ia bersama dengan seorang pria tampan di sampingnya. Pakaian Marini berkilauan di terpa mentari pagi. Ia mengenakan sutera berwarna hijau bercorak kuning emas. Marini menuruni kapal bersama pria tampan di sampingnya. Ia berjalan menuju rumah ibunya.

"Marini, kau kah itu ?"
"Ibu..."

Marini memeluk ibunya sekuat mungkin. Ia sangat merindukan ibunya. Begitu pula dengan Nyai Tasim.

"Ibu, maafkan Marini yang baru bisa pulang setelah delapan tahun berlalu. Marini sudah selesai menamatkan sekolah di kota. Sekarang Marini sudah bekerja sebagai sekretaris di kantor wali kota, Bu."
"Syukurlah, Nak. Ibu senang mendengarnya. Tapi yang paling membuat Ibu senang adalah melihatmu dalam keadaan sehat pulang kembali ke rumah."
"Oh iya, Bu. Ini calon suami Marini. Namanya Palaka."
"Palaka ?"
"Iya. Palaka adalah putera dari Tuan Purnawan. Karena kami sering bersama, mulai tumbuh benih - benih cinta di antara kami. Maka dari itu, kami berniat ingin menikah, Bu."
"Tapi, apakah boleh orang miskin seperti kita menikah dengan anak saudagar yang terhormat ?"
"Bu Tasim."kata Palaka. "Anak ibu ini sebenarnya adalah anak teman ayah saya. Keduanya bersahabat sangat dekat. Mendiang suami ibu dulunya bekerja dengan ayah saya. Tapi karena ada kecelakaan di pabrik, suami ibu meninggal dunia."
"Jadi, suami saya dulu berteman baik dengan Tuan Purnawan ?"
"Iya, benar sekali."
"Semua ini terasa seperti takdir."
"Kalau begitu, Marini boleh menikah dengan Palaka, Bu ?"
"Boleh, Nak."

Marini akhirnya menikah dengan Palaka, putra dari Tuan Purnawan, ayah angkat Marini. Nyai Tasim dan Marini pindah ke kota. Mereka membangun sebuah rumah mungil di kota dekat rumah Tuan Purnawan. Mereka berdua hidup bahagia sampai dengan akhir hayatnya.

- Tamat -

Pesan yang dapat di ambil :
Bersabarlah dengan keadaan yang ada saat ini. Semua kesabaran akan berbuah manis. Jangan lupa bubuhi kesabaran itu dengan sikap baik hati dan menolong sesama. Serta jangan lupa terhadap masa lalumu yang pernah pahit.

Terima kasih telah membaca artikel ini. Semoga bermanfaat.

Wassalamu'alaykum...

Iklan Atas Artikel

Advertisement

Advertisement

Iklan Bawah Artikel