IBX5B54BCC389CD2 Cerita Rakyat - Putri Alea - Lulusandiploma.com

Cerita Rakyat - Putri Alea


Assalamu'alaykum...

Cerita rakyat - kali ini lulusandiploma akan memberikan sebuah cerita rakyat untuk teman - teman ambil dan petik hikmahnya. Cerita rakyat berkembang di dalam kehidupan masyarakat, bahkan terkadang nilai - nilai moral yang terkandung di dalamnya di jadikan sebagai motivasi untuk kehidupan. Cerita rakyat dapat di dongengkan untuk adik - adik di rumah agar membangun pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Nah, cerita rakyat kali ini bertema tentang kisah pangeran dan putri kerajaan. Selamat membaca !



CERITA RAKYAT - PUTRI ALEA

Di dalam sebuah istana megah, hidup seorang putri  nan cantik jelita. Ia adalah anak dari seorang raja yang adil dan bijaksana. Putri raja itu bernama Putri Alea. Usianya sudah beranjak remaja, lima belas tahun. Sedari kecil putri Alea tumbuh dan berkembang di dalam istana.

Putri Alea adalah anak dari selir raja bernama Selir Lamina. Ibu dari putri Alea terkenal sangat baik dan ramah terhadap siapa saja. Namun bagi putri Alea, ibunya adalah seseorang yang tidak memiliki hati dan perasaan. Selama ini ibunya hanya baik di hadapan orang - orang saja. Di belakang mereka, Selir Lamina membicarakan keburukan setiap orang yang ia temui di istana.

"Anakku, besok Raja akan kedatangan tamu."kata Selir Lamina. Di dalam istana, selir dan anaknya memang tidur pada kamar yang sama.
"Benarkah ? Siapa tamu itu, Bu ?"
"Dayang istana mengatakan kalau tamu itu adalah tamu penting, makanya dalam waktu dua hari ini banyak sekali makanan yang di beli dari luar kerajaan."
"Untuk menjamu mereka ?"
"Tentu saja."
"Raja memang benar - benar baik hati. Ia begitu memuliakan tamunya, sampai - sampai membeli bahan makanan yang istimewa dari luar kerajaan."
"Kata siapa ?"
"Hmm ? Raja kita memang baik, Bu."
"Tidak."
"Kenapa tidak ?"
"Raja seperti itu karena mau menjilat tamunya saja, supaya tetap bisa di percaya untuk memimpin kerajaan ini selama ia mampu."
"Ibu tidak boleh bicara seperti itu. Nanti kalau ada yang mendengarnya, ibu bisa di hukum."
"Menghukum ? Hahaha. Kamu harus tau, Alea. Ibumu ini adalah cinta pertama ayahmu, Raja Brasatya. Bagaimana mungkin ayahmu menghukum cinta pertamanya ? Dan lagi pula, apa yang ibu ucapkan memang benar apa adanya."
"Sebaiknya Alea segera tidur, Bu. Alea sudah mengantuk sekali."
"Tidur saja, Ibu masih ingin membersihkan kuku kaki dan kuku tangan Ibu."

Seperti itulah keseharian Putri Alea. Sebelum tidur malam, Selir Lamina akan menceritakan orang lain dahulu dengan putrinya. Putri Alea sudah tahu dan hafal apa yang akan di ceritakan ibunya setiap malam. Makanya, ia menyegerakan tidur sebelum ibunya bercerita lebih panjang lagi tentang orang lain.

Keesokan harinya, tamu istimewa raja tiba di gerbang istana. Tamu istimewa tersebut ternyata adalah raja dari kepulauan jauh. Ia datang bersama putranya yang kebetulan seumuran dengan usia Putri Alea. Tamu kerajaan itu di sambut dengan jamuan mewah dan tarian khas tradisional. Putri Alea juga ikut di dalam acara perjamuan itu.

Setelah jamuan selesai, Raja Brasatya mengajak tamunya untuk mengobrol di aula istana. Sementara itu, Alea ikut mengemas peralatan yang tadi di gunakan untuk perjamuan. Saat sedang mengangkat perlengkapan, Alea di panggil oleh penasihat raja.

"Tuan Putri Alea."
"Iya ? Kenapa, paman ?"
"Boleh paman meminta tolong pada Putri Alea nan manis ini ?"
"Boleh saja, paman. Bantuan seperti apa yang bisa Alea berikan untuk paman yang baik hati ini ?"
"Anak tamu istimewa kita merasa jenuh dengan obrolan di aula istana. Ia ingin di ajak berkeliling istana. Nah, karena Putri Alea sudah hafal area istana, paman rasa Putri Alea bisa menemani anak raja itu untuk berkeliling. Bagaimana ? Putri Alea mau membantu paman ?"
"Berkeliling istana ? Hanya itu saja ?"
"Bagaimana kalau Putri Alea juga mengajak anak raja itu bermain di taman samping istana ? Pasti seru !"
"Mmm...boleh juga. Baiklah, Alea akan bantu paman."
"Terima kasih tuan putri."

Putera raja itu bernama Pangeran Abaram. Ia mengikuti Alea dengan berjalan di sampingnya. Alea mengajaknya berkeliling istana sambil menjelaskan sepengetahuan dirinya. Pangeran Abaram hanya mengangguk tanda mengerti. Sampai mereka tiba di taman samping istana. Taman itu benar - benar sejuk. Ada beberapa pohon rindang di dekat pondok kecil di tengah - tengah taman. Ada pula sebuah danau buatan berukuran lumayan besar yang di isi oleh ikan peliharaan raja. Air danau yang bening membuat ikan - ikan itu tampak lucu berenang ke sana ke mari.

Baca juga : Cerita Rakyat - Buah dari Kesabaran

"Ikan - ikan di danau ini adalah ikan peliharaan raja. Ada banyak sekali macam - macam ikan di dalamnya. Tetapi yang menjadi kesukaan raja adalah ikan mas. Raja juga suka menyantap ikan mas bakar pada saat pesta rakyat."

Putri Alea mengajak Pangeran itu untuk duduk di pondok di pinggir danau. Mereka begitu menikmati sejuknya udara di bawah rindangnya pohon.

"Pondok ini adalah tempat kesukaanku. Aku sangat senang bisa melihat danau. Tapi aku juga akan sangat senang jika bisa melihat lautan. Aku sering membaca buku milik paman penasihat raja tentang luasnya lautan. Airnya yang biru, ombaknya tinggi, arusnya yang deras, anginnya yang berhembus kencang, semuanya aku ingin lihat."

Pangeran Abaram hanya diam saja mendengarkan. Ia tersenyum dan mengangguk, hanya itu saja. Sementara Alea berbicara dari pangkal sampai ke ujung.

Hingga matahari menuju ke arah barat, tamu raja itu baru pulang. Mereka sangat senang atas jamuan yang di berikan oleh raja. Putri Alea juga ikut mengantar kepulangan tamu raja sampai gerbang istana.

"Aku harap, Pangeran Abaram tidak melupakan aku meskipun kita hanya bertemu satu kali saja. Semoga kita bisa bertemu lagi di lain waktu."
"Baiklah, terima kasih atas ajakan berkelilingmu tadi."
Putri Alea hanya tersenyum lebar.

Malam harinya, Putri Alea hendak tidur di kamar. Ia melihat ibunya sudah berada di depan meja riasnya sambil merapihkan rambutnya yang tergelung panjang.

"Alea."
"Iya, Bu ?"
"Tadi Ibu lihat ada yang mengajak berkeliling Pangeran Abaram."
"Iya, Alea yang mengajaknya atas permintaan paman penasihat raja."
"Apakah Alea tahu siapa Pangeran Abaram itu ?"
"Dia anak dari tamu istimewa raja hari ini. Bukan begitu, Bu ?"
"Benar. Tapi masih ada yang lain."
"Yang lain yang bagaimana, Bu ?"
"Tadi ibu mendengar percakapan raja di aula istana. Mereka akan menjodohkan Pangeran Abaram dengan salah satu putri raja saat Pangeran itu berusia delapan belas tahun."
"Salah satu putri raja..."Alea bergumam.
"Iya. Kau jangan berharap menjadi bagian dari salah satu yang di pilih itu, Alea. Ingat, kau hanya anak seorang selir. Jangan bermimpi yang tidak masuk akal. Putri permaisuri istana jumlahnya ada tujuh orang. Mereka semua cantik dan cerdas. Mereka yang akan di pilih."
"Alea tidak.. mengharapkannya, bu."
"Ibu dengar Tuan Putri yang akan di pilih adalah anak dari Permaisuri Harumi."
"Anak dari Permaisuri Harumi berarti Tuan Putri Hanum."
"Ya, tepat sekali."
"Hmm.. Pilihan raja memang yang paling tepat. Tuan Putri Hanum terkenal akan kecantikan dan kecerdasannya. Ia juga berbudi pekerti luhur. Ia pandai bermain alat musik."
"Itu kan menurutmu, Alea. Putri Hanum juga pernah ketahuan mengambil ikan panggang raja pada saat ada perjamuan penting."
"Aduh... Alea tidur duluan ya, bu."
"Silahkan saja."

Tepat tiga tahun setelah itu, Pangeran Abaram datang bersama anggota kerajaan untuk meminang Putri Hanum. Mereka mengadakan pernikahan dengan pesta yang cukup besar pada masa itu. Alea turut membantu pada saat proses persiapan penampilan sang pengantin wanita.

Baca juga : Fabel - Kisah Buaya Kecil dan Burung Merpati

"Tuan Putri begitu cantik."
"Terima kasih, putri Alea. Kau juga cantik."
"Semoga Tuan Putri bisa bahagia dengan Pangeran Abaram sampai tua nanti."
"Akan aku doakan yang sama jika kau menikah nanti."

Malam harinya saat pesta sudah usai, Alea ikut mengemas perlengkapan yang di gunakan sebelumnya. Ia tampak sibuk membawa perlengkapan itu ke dapur bersama dengan dayang - dayang istana.

"Alea..." panggil sebuah suara. Alea celingukan untuk melihat siapa pemilik suara itu.
"Siapa itu ?"
"Kau tidak ingat aku ?"kata Pangeran Abaram mendekat.
"Pangeran ? Bagaimana mungkin Pangeran bisa ada di sini ? Seharusnya Pangeran di dalam kamar pengantin bersama Tuan Putri Hanum."
"Hanum sedang sakit. Ia kini di rawat oleh tabib istana di kamarnya."
"Lalu kenapa Pangeran di sini ?"
"Aku ingin menemuimu."
"Menemuiku ? Mengapa ?"
"Bukankah dulu kau bilang ingin bertemu denganku lagi di lain waktu ? Ini lah waktunya. Aku sudah mengabulkannya, bukan ?"
"Oh... itu ucapanku waktu itu..."
"Seharusnya kau mengucapkan terima kasih karena aku telah mengabulkan permohonanmu."
"Baiklah, terima kasih atas kebaikan Pangeran Abaram nan baik hati."
"Kalau begitu, ayo kita pergi."
"Kemana ?"
"Mengabulkan permintaanmu yang satu lagi."
"Ke pantai ?"
"Iya. Aku sudah siapkan kuda di dekat sana."
"Aku ingin mengucapkan terima kasih banyak atas keramahan hati Pangeran, tapi waktu kali ini bukan waktu yang tepat, Pangeran. Pangeran sudah menikah."
"Jadi, kau tidak ingin ke pantai melihat luasnya lautan ?"
"Maaf, Pangeran, hamba menolaknya."
"Kenapa ?"
"Karena pangeran sudah menikah dan baru saja menggelar pesta pernikahan. Istri pangeran sedang sakit. Bagaimana mungkin pangeran pergi ke pantai bersama wanita lain ? Hamba akan di hukum berat nantinya."
"Jadi masalahnya hanya itu ?"
"Iya..."
"Kalau begitu, kita menikah saja."kata Pangeran Abaram tersenyum. Alea terbelalak mendengarnya.
"Pangeran mau menikahi hamba ?"
"Ya. Apa ucapanku tampak seperti main - main ?"
"Tapi..."
"Kau akan ku jadikan permaisuriku juga, Alea. Aku mencintaimu. Tolong terimalah lamaranku."
"Tapi..."
"Tidak usah pikirkan yang lain. Jawab saja sesuai apa kata hatimu."

Mata Alea berkaca - kaca. Semenjak Alea melepas kepulangan Pangeran Abaram di gerbang istana, Alea menaruh hati pada pangeran yang pendiam itu. Hampir setiap hari ia memikirkan dan membayangkan wajah Pangeran Abaram. Dan kini, pangeran itu melamarnya.

"Hamba dengan senang hati menerima lamaran pangeran."jawab Putri Alea dengan mantap.

Semenjak itu, Putri Alea dan Putri Hanum hidup berdampingan sebagai permaisuri dari Pangeran Abaram. Mereka hidup rukun di kerajaan milik Pangeran Abaram sampai hari tua.

-TAMAT-

Terima kasih telah membaca artikel ini. Semoga bermanfaat.

Wassalamu'alaykum...

Iklan Atas Artikel

Advertisement

Advertisement

Iklan Bawah Artikel